Showing posts with label 37. Show all posts
Showing posts with label 37. Show all posts
Saturday, April 28, 2012
Genre Musik
Genre Musik adalah pengelompokan musik sesuai dengan kemiripannya satu sama lain. Musik juga dapat dikelompokan sesuai dengan kriteria lain, misalnya geografi. Sebuah genre dapat didefinisikan oleh teknik musik, gaya, konteks, dan tema musik. Alternative Rock Alternative Rock adalah aliran musik rock yang muncul pada tahun 1980-an dan menjadi sangat populer di tahun 1990. Nama “alternatif”
Perkembangan Jazz di Indonesia
Tulisan singkat ini, sejujurnya, lahir dari kegelisahan penulis sebagai
seorang penggemar dan pemerhati musik jazz, oleh masih sangat minimnya
perhatian masyarakat, terutama Indonesia, terhadap jenis musik ini.
Seperti halnya musik klasik, sebagian besar orang memang cenderung
menganggap jenis musik ini terlalu berat, abstrak, dan sulit untuk
dicerna. Disamping itu, jazz acap kali distereotipkan sebagai musik kaum
elite atau kaum gedongan, walaupun kenyataannya di kalangan ?gedongan?
sendiri, sebenarnya penggemar ataupun penikmat musik jazz masih
merupakan golongan minoritas. Bahkan di kalangan kaum muda dewasa ini
sudah umum dijumpai anggapan bahwa jazz adalah ?musik orang tua yang
membosankan dan membuat kita mengantuk?.
Munculnya /imej/ bagi jazz yang kurang menguntungkan ini berpangkal pada
sebuah pengertian yang dominan bahwa fungsi utama musik adalah untuk
menghibur dan memberikan kepuasan kepada khalayak, dengan tujuan
mendapatkan keuntungan. Adanya perkembangan teknologi, yaitu munculnya
alat perekam suara pada akhir abad ?19 telah mengakibatkan pergeseran
besar dalam seni musik dunia : jika pada awalnya musik merupakan
ekspresi murni perasaan manusia maka kini musik menjadi produk industri
rekaman dan komoditas dagang. Kapitalisme industri musik juga telah
menggeser musik-musik lama yang menunjukkan identitas kultural
masing-masing etnis / bangsa di dunia, dan sebagai gantinya muncullah
jenis musik baru yang mengatasi dan meluruhkan perbedaan-perbedaan
kultural yang ada, yaitu apa yang disebut ?musik populer?. Tanpa
mengesampingkan kreativitas dari musisi pop (hanya sebagian kecil musisi
pop memiliki kreativitas orisinal !), sesungguhnya tidak sedikit
komposisi pop merupakan bentuk-bentuk yang terstandarisasi atau
reproduksi dari trend-trend sesaat, dan fenomena ini cenderung
berlangsung secara global.
Dalam hal ini patut diperhatikan bahwa musik jazz muncul sebagai
peralihan dari musik ?tradisional? menuju musik ?populer?. Pada awal
perkembangannya, jazz dapat diketegorikan sebagai sebuah contoh musik
tradisi, dimana musik ini sangat mewakili ekspresi dan kultur masyarakat
kulit hitam di Amerika Serikat. Sebagai musik yang mewakili sebuah
masyarakat yang terdiskriminasi, maka perkembangan jenis musik ini juga
akan mengalami nasib kurang lebih sama. Timbulnya aliran swing pada
dekade 1930-an membawa perubahan penting dalam cara orang memandang
musik ini, yang akhirnya berpengaruh pada pengkategorian posisi jazz di
antara berbagai musik lain. Era swing ditandai dengan munculnya jazz
band dengan jumlah pemain yang besar (big band), yang dapat dilihat
sebagai sebuah bentuk orkestrasi ala Eropa yang diaplikasikan dalam
jazz, walaupun tetap mempertahankan ciri-ciri pokoknya, seperti
improvisasi, sinkopasi dan /blue note/ (nada yang merendah pada not
ketiga dan ketujuh, merupakan ciri khas musik blues dan jazz). Dengan
perkembangan tersebut, jazz tidak lagi dianggap musik ?barbar? karena
identik dengan orang kulit hitam. Pada masa itu, jazz bahkan telah
menjadi musik populer, dengan irama swing-nya yang cocok untuk berdansa,
dan pada masa itu pula jazz mulai menyebar ke belahan dunia lain seperti
Eropa ataupun Asia. Tidak sedikit komposisi-komposisi jazz dari musisi
handal semacam *George Gershwin, Cole Porter *atau* Duke Ellington
*diangkat menjadi /soundtrack/ film, dan komposisi-komposisi tersebut
sebenarnya merupakan lagu pop pada zamannya.
Perkembangan jazz yang semakin mengarah pada musik hiburan tersebut
menimbulkan reaksi di kalangan musisi jazz kulit hitam. Beberapa
diantaranya seperti *Charlie Parker *dan* Dizzy Gillespie *lantas
memperkenalkan bebop, sebuah style baru dalam jazz pada sekitar akhir
dekade 1940-an. Kemunculan bebop ini sering disebut sebagai revolusi
dalam musik jazz, karena konon para eksponennya memiliki sebuah spirit
baru yang bertujuan mengembalikan jazz pada hakikatnya sebagai musik
?seni? khas kaum negro. Aliran baru ini ditandai dengan berkembangnya
formasi band / combo secara lebih minimalis dengan konsekuensi semakin
luasnya ruang bagi improvisasi solo masing-masing pemain. Disamping gaya
swing dengan formasi big band-nya, bebop dan beberapa variasi yang
muncul kemudian (hard bop, cool jazz, dan sebagainya) menjadi aliran
utama (mainstream) dan pusat dari perkembangan jazz dunia hingga masa kini.
Semenjak ?revolusi? bebop, jazz agaknya cenderung berkembang menjadi
sebuah genre yang lebih eksklusif daripada sebelumnya dan makin tampak
terpisah dari berbagai jenis musik lain. Memang, jazz kemudian
benar-benar berkembang menjadi sebuah musik ?seni? dengan tingkat
kesulitan tinggi sebagaimana halnya musik klasik. Pada masa-masa
sekarang ini akan lebih banyak dijumpai musisi jazz jebolan
sekolah-sekolah musik, walaupun kenyataannya para dedengkot awal jazz
hampir semuanya belajar bermusik secara otodidak. Sebagai sebuah genre
musik yang makin membutuhkan keseriusan, maka tidak mengherankan apabila
jazz mulai agak dijauhi khalayak. Apalagi pada saat itu, trend rock?n
roll makin merajai blantika musik populer dunia. Jika pada tahun
1940-an, jazz dapat dijumpai pada komunitas tempat hiburan umum dan
pesta-pesta dansa, sejak sekitar tahun 1950 dan selanjutnya akan terasa
?bergeser? menuju komunitas intelektual dan akademisi, dimana mereka
semakin cenderung memperlakukan musik ini seakan sebuah ?disiplin ilmu?
tersendiri. Jika ditelaah lebih lanjut, adanya revolusi bebop setidaknya
membawa beberapa dampak positif : Pertama, di tengah iklim rasialisme
yang masih kuat hingga tahun 1960-an (ingat kasus tertembaknya *Martin
Luther King*, pejuang kulit hitam AS pada tahun 1968 !), jazz mulai
dikategorikan sebagai bagian dari ?budaya tinggi?, disaat musik rock
yang diangkat kaum kulit putih justru lebih menjadi bagian dari ?budaya
massa?. Kedua, dengan sedikit melepaskan diri dari bentuk orkestrasi ala
swing akan memungkinkan para musisi jazz melakukan eksplorasi-eksplorasi
baru dengan mengadaptasikan unsur dari musik-musik yang dianggap dapat
memperkaya jazz. Tanpa bebop, mungkin tidak akan pernah ada jazz fusion,
avant garde atau world music yang mengeksplorasi musik-musik etnis dari
berbagai belahan dunia.
Pada masa-masa belakangan, semakin tampak bahwa musik jazz senantiasa
kontradiktif dengan musik populer (rock dan pop), dimana jika seseorang
menjadi penggemar salah satu jenis musik ini biasanya akan menolak yang
lainnya. Yang kurang diketahui umum adalah bahwa kedua jenis musik
tersebut memiliki hubungan satu sama lain yang saling mempengaruhi.
Bukankah jazz maupun rock tumbuh dari akar yang sama, yakni blues ?
Mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa lagu-lagu *The Beatles* telah
banyak dibawakan oleh para musisi jazz sebagai lagu standar. Atau bahwa
*Sting*, pentolan grup /New Wave/ era 80-an, *The Police*, adalah juga
seorang musisi jazz yang handal. Akibat interaksi antara jazz dan
musik-musik hiburan terbukti telah melahirkan berbagai sintesis baru
yang memperkaya nuansa baik dalam jazz maupun rock. Bagi para musisi pop
atau rock yang mengadopsi elemen jazz akan memberi mereka suatu nilai
lebih karena dengan demikian akan dianggap lebih bermutu, sementara
sebaliknya bagi kalangan musisi jazz, dengan mengadopsi unsur musik
populer akan menyebabkan karya mereka lebih memiliki daya jual.
Munculnya berbagai bentuk sintesis antara jazz dan musik hiburan ini
sering menjadi bahan perdebatan di kalangan kritikus musik, mengenai
pengkategorian yang menjadi semakin kabur karenanya. Sejak sekitar tahun
1980-an, berbagai aliran baru ini diberi nama /Adult Contemporary/ (AC),
agaknya untuk menunjukkan bahwa musik ini ditujukan untuk kalangan usia
tertentu yang dianggap telah ?dewasa?, biasanya usia 30 tahun ke atas..
Musik-musik yang dapat dikategorikan sebagai AC ini meliputi :
1. *Fusion*, yang lahir sekitar akhir dekade 1960-an, ketika Miles
Davis, seorang eksponen bebop dan cool jazz mempopulerkan sebuah
varian baru jazz dengan mengadopsi unsur rock dan soul / R&B.
Kepeloporan Miles dilanjutkan oleh musisi-musisi generasi di
bawahnya. Salah seorang yang paling sukses adalah Chick Corea
dimana ia mempopulerkan penggunaan instrumen elektronis dalam
jazz, sehingga fusion kemudian hampir tidak dapat dilepaskan dari
ciri (elektronis) tersebut. Pada awalnya, fusion masih cukup sarat
dengan improvisasi jazz, akan tetapi kemudian semakin mengarah
pada pop dengan jenis komposisi yang disederhanakan untuk lebih
menarik selera pasar. Jenis terakhir ini kemudian lebih populer
dengan istilah smooth jazz atau terkadang disebut pula
contemporary jazz.
2. ?*Jazzy*?, yang berarti ?agak-agak ngejazz? atau ?sedikit
bernuansa jazz?. Umumnya istilah ini dipergunakan untuk menyebut
musik populer yang mengadopsi unsur jazz, umumnya pada progresi
chord (yang mewakili unsur ?blue note?) maupun irama (rhythm) yang
sering dipergunakan dalam jazz misalnya swing, soul, bossanova dan
sebagainya. Beberapa pengusung awal jazzy antara lain kelompok
*Blood, Sweat & Tears (BS&T) *dan *Chicago* sekitar tahun 1968.
Artis-artis jazzy memiliki latar belakang beraneka ragam. Ada
sebagian artis/musisi yang memang memilih jazzy sebagai konsep
musiknya, ada pula yang menjadi ?jazzy? hanya karena kolaborasinya
dengan musisi-musisi jazz. Dengan demikian, warna musiknya akan
beraneka ragam. Salah satu varian yang paling populer belakangan
ini adalah acid jazz, dimana aliran musik baru ini konon merupakan
hasil ?ulah? para DJ (disc jockey) dalam menciptakan suatu jenis
musik dance dengan memasukkan unsur jazz, soul, hip hop, dan funk
dalam satu komposisi/lagu. Acid jazz yang dibawakan oleh grup
seperti Brand New Heavies dan Incognito, dengan beat-nya yang
dinamis ini dengan segera memperoleh sambutan dari kalangan
pendengar yang lebih muda.
Dari ilustrasi historis yang sangat singkat ini kiranya dapat diperoleh
sebuah pengertian bahwa jazz tidak melulu merupakan jenis musik serius
dan membosankan. Kiranya lebih tepat jika dikatakan bahwa jazz merupakan
sebuah proses ?tarik ulur? antara tradisi musik seni / klasik yang
bersifat elitis dengan musik hiburan yang mewakili aspirasi khalayak
lebih luas. Dari proses tarik ulur inilah kemudian muncul banyak sekali
varian ataupun aliran dalam jazz yang makin memperkaya khazanah musik
ini. Sesungguhnya, jazz menawarkan keanekaragaman dan
eksplorasi-eksplorasi musikal yang sayang apabila diabaikan begitu saja,
apalagi bagi generasi muda yang biasanya paling memiliki rasa ingin
tahu. Akhir kata penulis ucapkan : selamat mencoba !
Pengaruh Musik Terhadap Anak
|
Penelitian membuktikan bahwa
musik, terutama musik klasik sangat mempengaruhi perkembangan IQ (Intelegent
Quotien) dan EQ (Emotional Quotien). Seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan
musik akan lebih berkembang kecerdasan emosional dan intelegensinya
dibandingkan dengan anak yang jarang mendengarkan musik. Yang dimaksud musik
di sini adalah musik yang memiliki irama teratur dan nada-nada yang teratur,
bukan nada-nada miring. Tingkat kedisiplinan anak yang sering mendengarkan
musik juga lebih baik dibanding dengan anak yang jarang mendengarkan musik.
|
Penelitian menunjukkan, musik klasik yang mengandung komposisi nada berfluktuasi antara nada tinggi dan nada rendah akan merangsang kuadran C pada otak. Sampai usia 4 tahun, kuadran B dan C pada otak anak-anak akan berkembang hingga 80 % dengan musik.
Musik sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Musik memiliki 3 bagian penting yaitu beat, ritme, dan harmony, demikian kata Ev. Andreas Christanday dalam suatu ceramah musik. Beat mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa, sedangkan harmony mempengaruhi roh. Contoh paling nyata bahwa beat sangat mempengaruhi tubuh adalah dalam konser musik rock. Bisa dipastikan tidak ada penonton maupun pemain dalam konser musik rock yang tubuhnya tidak bergerak. Semuanya bergoyang dengan dahsyat, bahkan cenderung lepas kontrol. Kita masih ingat dengan head banger, suatu gerakan memutar-mutar kepala mengikuti irama music rock yang kencang. Dan tubuh itu mengikutinya seakan tanpa rasa lelah. Jika hati kita sedang susah, cobalah mendengarkan musik yang indah, yang memiliki irama (ritme) yang teratur. Perasaan kita akan lebih enak dan enteng. Bahkan di luar negeri, pihak rumah sakit banyak memperdengarkan lagu-lagu indah untuk membantu penyembuhan para pasiennya. Itu suatu bukti, bahwa ritme sangat mempengaruhi jiwa manusia. Sedangkan harmony sangat mempengaruhi roh. Jika kita menonton film horor, selalu terdengar harmony (melodi) yang menyayat hati, yang membuat bulu kuduk kita berdiri. Dalam ritual-ritual keagamaan juga banyak digunakan harmony yang membawa roh manusia masuk ke dalam alam penyembahan. Di dalam meditasi, manusia mendengar harmony dari suara-suara alam disekelilingnya. Musik yang baik bagi kehidupan manusia adalah musik yang seimbang antara beat, ritme, dan harmony, ujar Ev. Andreas Christanday.
Seorang ahli biofisika telah melakukan suatu percobaan tentang pengaruh musik bagi kehidupan makhluk hidup. Dua tanaman dari jenis dan umur yang sama diletakkan pada tempat yang berbeda. Yang satu diletakkan dekat dengan pengeras suara (speaker) yang menyajikan lagu-lagu slow rock dan heavy rock, sedangkan tanaman yang lain diletakkan dekat dengan speaker yang memperdengarkan lagu-lagu yang indah dan berirama teratur. Dalam beberapa hari terjadi perbedaan yang sangat mencolok. Tanaman yang berada di dekat speaker lagu-lagu rock menjadi layu dan mati, sedangkan tanaman yang berada di dekat speaker lagu-lagu indah tumbuh segar dan berbunga. Suatu bukti nyata bahwa musik sangat mempengaruhi kehidupan makhluk hidup.
Alam semesta tercipta dengan musik alam yang sangat indah. Gemuruh ombak di laut, deru angin di gunung, dan rintik hujan merupakan musik alam yang sangat indah. Dan sudah terbukti, bagaimana pengaruh musik alam itu bagi kehidupan manusia.
Wulaningrum Wibisono, S.Psi mengatakan, Jikalau Anda merasakan hari ini begitu berat, coba periksa lagi hidup Anda pada hari ini. Jangan-jangan Anda belum mendengarkan musik dan bernyanyi.
Musik Metal Bantu Stabilkan Emosi
Tak semua orang suka dengan musik beraliran cadas. Iramanya yang hingar bingar dianggap sebagai musik yang hanya membuat telinga tuli. Tapi mulai sekarang, meskipun Anda tak menyukainya, tak ada salahnya jika Anda memanfaatkan keberadaannya untuk meredan stres. Tak percaya ?
Penelitian terbaru yang dilansir oleh Sciencedaily bahkan menyebutkan bahwa penggemar musik heavy metal ternyata lebih pandai meredam emosi negatif, lebih ekspresif dan lebih bisa meluapkan kemarahannya.
Penelitian yang melibatkan 1.057 murid dari usia antara 11 dan 18 tahun dari sekolah National Academy di Amerika. Semua responden diteliti dengan cermat hubungan mereka dengan keluarga, perilaku di sekolah, bagaimana mereka menghabiskan waktu santai, musik kesukaan, dan jenis media yang mereka konsumsi. “Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa bahwa presepsi yang selama ini beredar salah. Selama ini orang menganggap murid yang cerdas dan memiliki intelijensi tinggi cenderung didominasi mereka yang suka musik klasik dan menghabiskan banyak waktu untuk membaca, ” ujar Stuart Cadwallader, kepala penelitian dari Warwick University.
Sayangnya, menurut Stuart tudi mereka yang menikmati musik heavy metal cenderung mengalami kesulitan untuk menjalin hubungan dengan keluarga dan teman-teman mereka. Dan mereka menjadikan musik sebagai media ‘keterbukaan’. Sebagian besar murid mengatakan mereka tidak mempertimbangkan untuk menjadi penganut Metal sejati tapi musik heavy metal memahami aspek spesifik kebudayaan pemuda saat ini. Dengan menggunakan musik yang keras dan agresif, mereka bisa keluar dan lepas dari rasa frustrasi dan kemarahan. Di sini berhasil dibuktikan bahwa musik heavy metal atau cadas juga bisa meredekan situasi hati atau mood yang sedang buruk. Menurut Stuart, banyak musisi aliran heavy metal juga memiliki tingkat intelijensi tinggi seperti vokalis Iron Maiden, Bruce Dickinson, yang selain sebagai musisi, juga berprofesi sebagai novelis dan pilot penerbangan komersial.
Musik Perjuangan
Musik ini lahir dari kondisi masyarakat
Indonesia yang sedang terjajah oleh bangsa asing. Dengan menggunakan musik,
para pejuang berusaha mengobarkan semangat persatuan untuk bangkit melawan
penjajah. Syair- syair yang diciptakan pada masa itu, umumnya berisi ajakan
untuk berjuang, ajakan untui berkorban demi tanah air, dan sebagainya. Irama
musiknya pun dibuat cepat dan semangat, serta diakhiri dengan semarak.
A. Nasionalisme dalam Musik
Selama abad 19, semua masyarakat Eropa merasakan bahwa masing-masing tanah air
yang dimilikinya harus mendapatkan loyalitas dan pengorbanan diri. rasa
nasionalisme bangkit pada saat berlangsungnya revolusi Perancis dan masa
peperangan di bawah pemerintahan Napoleon (1789-1814). Pada saat itu pasukan
Perancis melakukan penyerbuan atas sebagian besar wilayah Eropa, sehingga
banyak negara yang dikuasai Napoleon menimbulkan kesadaran nasionalisme di
kalangan warga negaranya. Rasa solidaritas itu adalah kesamaan bahasa, budaya,
dan sejarah yang dapat menimbulkan kekuatan, karena banyak yang dikirim ke
medan perang adalah prajurit militer dari kalangan sipil, bukan dari kalangan
tentara bayaran dan rasa patriotisme ini ditanamkan sebagai warisan nasional.
Sebagai gerakan politik revolusioner, nasionalisme membawa dampak pengaruh
kepada negara Jerman dan Itali yang sebenarnya adalah negara yang
terpecah-pecah menjadi negara kecil. Nasionalisme menyebabkan terjadinya
berbagai pemberontakan di negara kekuasaan asing, seperti Polandia dan Bohemia.
Arti nasionalisme adalah paham kebangsaan yang tumbuh karena adanya persamaan
nasib dan sejarah serta kepentingan hidup untuk bersama sebagai suatu bangsa
yang bersatu, berdaulat, demokratis dan maju di dalam suatu kesatuan bangsa dan
negara serta cita-cita bersama guna mencapai, memelihara dan mengabdikan
identitas, persatuan, kemakmuran, dan kekuatan atas dasar nasionalisme. Di
Indonesia nasionalisme adalah kualitas kejiwaan yang didasarkan pada kesadaran
nasional yang menjadi daya pemersatu seluruh bangsa untuk hidup bersama dan
bekerjasama berdasarkan atas harga diri yang timbul dari masyarakat kebudayaan
Indonesia. Nasionalisme di Indonesia lahir bersamaan dengan tumbuhnya keinginan
membentuk negara nasional Indonesia. Kesadaran nasion`l ini merupakan kekuatan
yang sangat menentukan bagi terwujudnya negara dan bangsa. Negara dan bangsa
tidak saja merupakan organisasi sosial politik tetapi juga sebuah kerangka yang
sangat diperlukan bagi semua aktivitas sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
Nasionalisme dan negara bangsa Indonesia berkembang melalui proses sejarah yang
panjang.
Nasionalisme merupakan suatu gerakan kebudayaan yang sangat kuat pengaruhnya
terhadap penggunaan bahasa nasional, yaitu seperti di negara yang dijajah oleh
kekuatan bangsa asing, bahasa nasional menjadi luas pemakaiannya baik dalam
tulisan buku-buku, surat kabar dan dokumentasi penting lainnya. Sebagai contoh,
di Bohemia terjadi kebangkitan kembali penggunaan bahasa Czekoslovakia, di mana
kondisi sebelum tahun 1800 negara ini telah dikuasai oleh bahasa Jerman yang di
pakai pihak penguasa Austria. Pada setiap negara yang dijajah oleh bangsa asing
semangat nasionalisme dirasakan oleh kalangan penduduk tradisional, di
antaranya adalah para kaum tani sehingga menimbulkan antusias baru terhadap
lagu rakyat, legenda rakyat dan cerita dongeng rakyat sebagai identitas bangsa
yang menimbulkan rasa nasionalisme salah satu diantaranya adalah kesenian.
Pengertian nasionalisme dalam musik pada pembahasan ini dapat di bagi menjadi
dua bagian sebagai berikut.
a. Gaya nasional
Nasionalisme juga mempengaruhi musik Romantik, sebagai mana para komponis
secara cermat memberikan suatu identitas nasional pada karya musik mereka
sendiri. Para komponis menggunakan lagu rakyat dan tarian rakyat dan
menciptakan lagu-lagu asli dengan cita rasa rakyat. Kemudian para komponis
nasionalis menulis opera dan musik programa yang diilhami oleh sejarah tanah
air mereka sendiri. Seperti Russian Easter Overtur karya Rimsky Korsakov,
“Finlandia” karya Sibelius dan Slavonic Dances karya Antonio Dvorak. Gaya
nasional digunakan melalui lagu rakyat yang dapat menimbulkan jiwa patriotisme.
Musik akan berbunyi dan bernuansa, Perancis, Russia, atau Itali bila irama,
warna nada, dan melodinya berasal dari tradisi nasional yang memang sebelumnya
telah ada karakteristik regional dalam musik sebelum periode romantik, namun
perbedaan gaya nasional pada saat itu belum dibahas begitu mendalam
penggunaannya secara umum.
b.Gaya nasional eksotisme
Komponis abad 19 benar-benar mrenyadari akan faham kebangsaan mereka untuk
berjuang secara sadar mewujudkan ciri-ciri kebangsaan dalam musik dari negara
asing. Para komponis sering meminjam gaya nasional bangsa lain. Eksotisme
dipakai sebagai ide dalam musik seperti halnya para komponis Indonesia memakai
medium barat dalam karya musiknya. Ciri-ciri ini terdapat pada ritme, melodi,
irama, yang menciptakan nuansa nasional kebangsaan yaitu suatu trend dikenal
sebagai eksotisme musik. Sebagai contoh para komponis menulis lagu-lagu bergaya
oriental yang dipengaruhi ide musik dari kebudayaan bangsa lain. Seperti George
Bizet seorang komponis berkebangsaan Perancis menulis Carmen, yaitu sebuah
karya opera dengan mengambil idiom musik Spanyol. Giocomo Puccini seorang
komponois berkebangsaan Itali menulis Madame Buterfly sebuah opera yang
mengambil idiom musik bangsa Jepang. Rimsky Korsakov komponis berkebangsaan
Russia menulis Scheherazade sebuah karya orkestra dengan mengambil idiom musik
bangsa Arab Timur tengah. Gaya eksotisme adalah suatu perkembangan musik
romantik yang menarik bagi komponis, berkaitan dengan keindahan negara lain
yang menjadi ide ekspresi musikal.
Perkembangan Musik Pop Indie
Jakarta – Serunya penyelenggaraan kontes band pendatang baru atau
independen (indie) belakangan ini, kemungkinan bakal mengubah arah/cara
merekrut para A&R (artist & repertoire) di berbagai label rekaman Tanah
Air.
Perkiraan macam begitu, sudah lebih dulu terjawab dengan realitas beberapa
runner-up Dream Band (kontes band kerja sama TV7-majalah Hai) yang kini berada
di bawah lindungan label bergengsi, seperti contoh utamanya, Kapten di EMI Indonesia.
Lalu, keberuntungan serupa juga dialami oleh mantan Juara Utama “A Mild Live
Wanted” regional Jawa Barat, Vagetoz yang beruntung langsung direkrut Sony BMG
Indonesia.
Apa pun kini peraturan ketat bagi finalis utama dan pemenang utamanya, tetapi celah intaian para A&R pada peserta kontes band semacam “A Mild Live Wanted” (yang melahirkan d’Masiv), “KFC Music Hit List” (Juliette dan Antique), dan “LA Lights Indiefest” (VOX dan d’Rinos), bisa menjadi kemungkinan menarik, karena selera pasar publik muda semakin sulit dimengerti.
Nyaris rata-rata A&R sekarang ini, sekadar menduga-duga perputaran minat musik anak muda Indonesia. Jadi, apa salahnya, menjajal kemungkinan merekrut kontestan “yang kalah” atau “calon pemenang” terlebih dulu.
Maka guna mencegah kenyataan itu terulang lagi, Krisna J Sadrach selaku ketua dewan juri “A Mild Live Wanted”, sampai perlu menggiring setiap tiga besar Regional (sebelum konser final) agar menentukan pilihan mundur apabila band bersangkutan telah teken kontrak dengan label tertentu.
Sebab, kini hukumannya tak sekadar hilang hak juara (seperti Vagetoz tahun lalu), tetapi juga denda sebanyak Rp 50 juta.
Vokalis Gigi, Armand Maulana, mengatakan bahwa saat ini sudah berbeda zaman. “Pemusik band sekarang lebih mendapat tempat, apalagi dengan kontes-kontes macam begini. Tetapi pada dasarnya tetap sama, tetap harus melakukan usaha yang terbaik.
Bagusnya, kini mereka lebih didukung label yang mem-backup pemenangnya. Sebaliknya kesulitan mereka saat ini adalah band sudah begitu banyak,” komentar Armand.
Pemetik bas Anima, Eldy yang ikut berkomentar tentang tren kontes seperti “A Mild Live Wanted”, mengatakan grup band Anima pasti ikut apabila kompetisi semacam itu sudah ada dari dulu.
“Beda keadaannya. Dulu kami harus bergerilya di label indie, dan mencoba membuka pasar yang baru di wilayah Jayapura, Sorong, NTT sampai dengan Atambua, yang berbatasan langsung dengan Timor Timur,” kenang Eldy.
“Dulu kami juga ikut-ikutan festival band (yang tak janjikan masuk label), seperti yang pernah pula dilakukan d’Masiv (pemenang utama “A Mild Live Wanted 2007”). Serta sering kali melewati tolakan dari label besar. Lagu ‘Bintang’ (yang kini laris sebagai nada dering ponsel) bahkan sempat hanya masuk album kompilasi,” ceritanya.
Apa pun kini peraturan ketat bagi finalis utama dan pemenang utamanya, tetapi celah intaian para A&R pada peserta kontes band semacam “A Mild Live Wanted” (yang melahirkan d’Masiv), “KFC Music Hit List” (Juliette dan Antique), dan “LA Lights Indiefest” (VOX dan d’Rinos), bisa menjadi kemungkinan menarik, karena selera pasar publik muda semakin sulit dimengerti.
Nyaris rata-rata A&R sekarang ini, sekadar menduga-duga perputaran minat musik anak muda Indonesia. Jadi, apa salahnya, menjajal kemungkinan merekrut kontestan “yang kalah” atau “calon pemenang” terlebih dulu.
Maka guna mencegah kenyataan itu terulang lagi, Krisna J Sadrach selaku ketua dewan juri “A Mild Live Wanted”, sampai perlu menggiring setiap tiga besar Regional (sebelum konser final) agar menentukan pilihan mundur apabila band bersangkutan telah teken kontrak dengan label tertentu.
Sebab, kini hukumannya tak sekadar hilang hak juara (seperti Vagetoz tahun lalu), tetapi juga denda sebanyak Rp 50 juta.
Vokalis Gigi, Armand Maulana, mengatakan bahwa saat ini sudah berbeda zaman. “Pemusik band sekarang lebih mendapat tempat, apalagi dengan kontes-kontes macam begini. Tetapi pada dasarnya tetap sama, tetap harus melakukan usaha yang terbaik.
Bagusnya, kini mereka lebih didukung label yang mem-backup pemenangnya. Sebaliknya kesulitan mereka saat ini adalah band sudah begitu banyak,” komentar Armand.
Pemetik bas Anima, Eldy yang ikut berkomentar tentang tren kontes seperti “A Mild Live Wanted”, mengatakan grup band Anima pasti ikut apabila kompetisi semacam itu sudah ada dari dulu.
“Beda keadaannya. Dulu kami harus bergerilya di label indie, dan mencoba membuka pasar yang baru di wilayah Jayapura, Sorong, NTT sampai dengan Atambua, yang berbatasan langsung dengan Timor Timur,” kenang Eldy.
“Dulu kami juga ikut-ikutan festival band (yang tak janjikan masuk label), seperti yang pernah pula dilakukan d’Masiv (pemenang utama “A Mild Live Wanted 2007”). Serta sering kali melewati tolakan dari label besar. Lagu ‘Bintang’ (yang kini laris sebagai nada dering ponsel) bahkan sempat hanya masuk album kompilasi,” ceritanya.
Kerja Keras
Kini nasib Anima jelas sudah berbeda, sejak mereka direkrut Sony BMG Indonesia sekitar dua tahun lalu dengan album bertajuk nama sendiri, yang muatan 80 persen terdiri dari lagu-lagu “masa lalu yang dulu ditolak label besar”, ditambah empat lagu baru.
Sebentar lagi, Anima yang bergitaris baru, Robby dan ditambah personel kibordis, Jijil (dulu cuma pemain tambahan) akan masuk studio rekaman dengan 11 lagu baru, plus satu singel religius. Mereka mengaku sadar dengan bangkitnya kembali unsur musik rock di dunia pop Indonesia. Jadi, akan lebih bermain beat yang baru dan menyegarkan.
Kerja keras dan selalu mengedepankan ide fresh, memang juga disarankan Armand Maulana selaku senior, bagi band yang kemudian menjulang naik (dari kompetisi kontes ataupun perjuangan demo dan pentas keliling).
Hal penting itu pula yang selama ini dilakukan grup band Manusia (David, Acil, Didi, Billy dan Yusi). Para personelnya terus berjuang dan mengasah kemampuan bermusik dari panggung kafe, pentas kecil, hingga menjadi pemain tambahan untuk beberapa proyek pemusik dan artis penyanyi papan atas.
Kepentingan pasar juga dipahami Manusia di album kedua bertajuk Manusia Biasa yang diedarkan Warner Music Indonesia, setelah debutnya, “Manusia Baru” terbilang dulu bernada idealis. “Lagi musim duren, ya jangan jualan mangga,” ujar gitaris Billy, otak pencipta lagu-lagu Manusia yang juga bekerja sebagai instruktur di sekolah musik Yamaha Music Indonesia.
Sebagai kelompok band, Manusia tentu menyimpan harapan di antara kesukaan publik muda negeri ini yang tertumpu lebih pada grup band.
Namtn, di balik demikian banyaknya grup band yang berkiprah di industri rekaman, malah membuat finalis “Festival Pop Singer Pelajar 2004”, Yanne Panca Wardhani tetap yakin untuk berkarier solo (daripada jadi vokalis band), dan melanjutkan tekadnya di album kedua bertajuk namanya sendiri yang mempercayakan lagu-lagu ciptaan Dewiq, Arie “Bias”, Baliyanto dan Ressa Herlambang.
Lagu Pop
Kini nasib Anima jelas sudah berbeda, sejak mereka direkrut Sony BMG Indonesia sekitar dua tahun lalu dengan album bertajuk nama sendiri, yang muatan 80 persen terdiri dari lagu-lagu “masa lalu yang dulu ditolak label besar”, ditambah empat lagu baru.
Sebentar lagi, Anima yang bergitaris baru, Robby dan ditambah personel kibordis, Jijil (dulu cuma pemain tambahan) akan masuk studio rekaman dengan 11 lagu baru, plus satu singel religius. Mereka mengaku sadar dengan bangkitnya kembali unsur musik rock di dunia pop Indonesia. Jadi, akan lebih bermain beat yang baru dan menyegarkan.
Kerja keras dan selalu mengedepankan ide fresh, memang juga disarankan Armand Maulana selaku senior, bagi band yang kemudian menjulang naik (dari kompetisi kontes ataupun perjuangan demo dan pentas keliling).
Hal penting itu pula yang selama ini dilakukan grup band Manusia (David, Acil, Didi, Billy dan Yusi). Para personelnya terus berjuang dan mengasah kemampuan bermusik dari panggung kafe, pentas kecil, hingga menjadi pemain tambahan untuk beberapa proyek pemusik dan artis penyanyi papan atas.
Kepentingan pasar juga dipahami Manusia di album kedua bertajuk Manusia Biasa yang diedarkan Warner Music Indonesia, setelah debutnya, “Manusia Baru” terbilang dulu bernada idealis. “Lagi musim duren, ya jangan jualan mangga,” ujar gitaris Billy, otak pencipta lagu-lagu Manusia yang juga bekerja sebagai instruktur di sekolah musik Yamaha Music Indonesia.
Sebagai kelompok band, Manusia tentu menyimpan harapan di antara kesukaan publik muda negeri ini yang tertumpu lebih pada grup band.
Namtn, di balik demikian banyaknya grup band yang berkiprah di industri rekaman, malah membuat finalis “Festival Pop Singer Pelajar 2004”, Yanne Panca Wardhani tetap yakin untuk berkarier solo (daripada jadi vokalis band), dan melanjutkan tekadnya di album kedua bertajuk namanya sendiri yang mempercayakan lagu-lagu ciptaan Dewiq, Arie “Bias”, Baliyanto dan Ressa Herlambang.
Lagu Pop
Musik Seriosa
Chairil Anwar pernah berkata di dalam
salah satu syairnya yang berbunyi “sekali berarti sudah itu mati”. Tapi sejarah
keberadaan musik seriosa Indonesia adalah lebih tragis dari kata-kata Chairil
Anwar tersebut. Sejarah keberadaan peradaban manusia dapat dilihat dari
peningggalan-peninggalannya. Keberadaan binatang purba di masa lalu seperti Dinosaurus,
Mammoth dan lain-lainnya meninggalkan fosil-fosil yang masih dapat kita lihat
sampai sekarang. Tapi keberadaan musik seriosa Indonesia hampir tidak ada
bekas-bekasnya sama sekali. Sungguh menyedihkan, sebuah aset budaya bangsa
hilang begitu saja tanpa adanya peninggalan-peninggalan baik berupa rekaman,
partitur, buku maupun catatan-catatan lainnya. Di dalam “sekali berarti sudah
itu mati” mungkin yang mati masih ada kuburannya, sedangkan musik seriosa
Indonesia tidak pernah kita ketahui dimana gerangan kuburannya?
Para stake holder atau
pemangku kepentingan dari musik seriosa Indonesia sebagai cabang dari seni
musik adalah pencipta musik, pelaku seni musik (pemain dan penyanyi), dan
masarakat penikmat musik. Disamping itu, tentunya bangsa, negara dan pemerintah
Indonesia karena musik adalah aset budaya bangsa. “Kepunahan” seni musik
seriosa ini adalah tanggung jawab mereka. Pencipta musik tidak lagi mencipta,
pelaku musik tidak lagi manggung, penikmat musiknya makin lama makin sedikit.
Sementara bangsa, negara dan pemerintah tidak berbuat apa-apa dalam hal ini.
Nasib musik keroncong masih jauh lebih baik, karena pelaku musiknya masih aktif
dan dokumentasi tentang keberadaan musik jenis keroncong ini masih banyak dan
mudah didapat. Begitu juga halnya dengan musik Melayu. Walaupun tergilas oleh
keberadaan musik dangdut, para pencipta, pelaku dan peminat musik Melayu
relatif masih banyak. Bedanya, kalau musik keroncong sudah bisa dikatakan
menjadi legenda karena langkanya kreasi-kreasi baru, musik Melayu masih
menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang lebih dinamis.
Salah satu kesalahan yang sangat saya
sesalkan dari para pecinta musik seriosa Indonesia ini adalah tidak adanya
rekaman atau buku-buku atau bentuk dokumentasi lainnya. Saya adalah salah satu
dari pecinta musik ini yang harus ikut bertanggung jawab dalam hal ini. Bila
kita melakukan pencarian di internet, jangan harap kita bisa melakukan down-load terhadap
lagu-lagu seriosa yang pernah ngetop pada jamannya, karena
memang tidak ada yang pernah melakukan up-load. Baik google,
yahoo ataupun situs yang lain tidak ada yang menyimpan lagu-lagu
seriosa yang dulu pernah tenar. Yang cukup mengagetkan adalah ditemukannya nama
Pranajaya dan Pranawengrum Katamsi, yang disebut sebagai Bapak Musik Seriosa
Indonesia dan Perintis Musik Seriosa Indonesia. Saya tidak menafikkan nama
besar ke dua penyanyi ini. Tapi saya kaget dengan sebutan tersebut yang
berkonotasi seolah-oleh mereka adalah perintis dan pelopor dari musik seriosa
Indonesia. Padahal masa kejayaan ke dua penyanyi ini adalah justru pada masa
“sandyakala” nya musik seriosa.
Pranajaya dan Pranawengrum memang pernah
menjadi maestro dan diva musik seriosa
Indonesia. Walaupun sama-sama mempunyai nama yang berawalan Prana, mereka tidak
ada hubungan keluarga. Pranajaya bernama asli Pranowo, sedangkan Pranajaya
adalah nama artisnya. Setelah Pranajaya memenangkan sayembara Bintang Radio,
Bung Karno, Presiden RI pada masa itu menghadiahkan bea siswa untuk memperdalam
seni musik di luar negeri. Kalau para Bintang-Bintang Radio sebelumnya memilih
untuk memperdalam ilmunya di Konservatorium Musik di Viena atau Roma, Pranajaya
memilih untuk belajar ke Jepang pada tahun 1963. Dia adalah salah satu dari
penyanyi bersuara tenor pujaan saya. Saya masih ingat bila ia menyanyikan lagu
Indonesia Pusaka di siaran TVRI, yang pada waktu itu adalah satu-satunya
stasion televisi yang ada, maka bulu kuduk saya jadi merinding karena terharu.
Sepulangnya dari Jepang, apresiasi terhadap musik seriosa di Indonesia justru
semakin surut. Akhirnya Pranajaya mendirikan Bina Vokalia yang terkenal itu,
dimana ia mengajarkan kepada anak-anak teknik vokal yang baik dan benar, tapi
bukan lagi musik seriosa yang ia geluti sebelumnya. Alasan ekonomi adalah dasar
pertimbangan utamanya. Sementara Pranawengrum adalah penyanyi seriosa satu
generasi sesudah Pranajaya. Berasal dari kota Yogya, Pranawengrum yang bersuara
sopran ini merajai kejuaraan Bintang Radio berturut-turut sampai kejuaraan
Bintang Radio ini dihentikan oleh RRI karena keterbatasan anggaran. Itu
sebabnya Pranawengrum disebut Bintang Radio abadi, karena tidak pernah
terkalahkan oleh siapapun. Jadi saya keberatan bila ke dua penyanyi besar ini
disebut sebagai perintis. Penyanyi-penyanyi besar dan legendaris dari jenis
seriosa ini cukup banyak. Ada nama-nama seperti Ade Ticoalu, Surti Suwandi,
Evelyne Tjiauw yang bersuara sopran. Ada Norma Sanger, Rose
Pandanwangi dan Sri Rahayu Susito yang bersuara mezzo-sopran. Di
jajaran penyanyi pria ada Andi Mulja, AR Empie yang juga berprofesi sebagai jaksa
dan Pranajaya yang bersuara tenor. Penyanyi bersuara bariton memang
jarang, tapi kita pernah punya seorang baritono legendaris
yaitu FX Rusmin. Saya sangat merindukan suara FX Rusmin menyanyikan lagu Kepada
Kawan ciptaan Alhabsyi. Pada waktu sebuah misi kebudayaan Indonesia
berkunjung ke RRC pada awal tahun 1960-an, duo Andi Mulja dan
Evelyne Tjiauw mendapat sambutan luar biasa saat membawakan lagu Ati
Raja secara duet. Saya iri sekali dengan penggemar musik Melayu. Pada
tahun 1950-an ada Orkes Melayu Sinar Medan, ada Orkes Melayu Bukit Siguntang
pimpinan A Chalik. Penyanyi besar masa itu adalah biduan Suhaimi dengan hit-nya
berjudul Dunia. Begitu juga biduanita Hasnah Tahar, penyanyi pujaan ibu saya
almarhumah. Lagunya yang terkenal antara lain Aiga, Rindu dan Bunga Seroja.
Untuk mendengar kembali lagu-lagu ini kita bisa mengakses beberapa situs
internet dan men-down load lagu-lagu tersebut dengan mudah. Walaupun mutu
rekamannya tidak sebagus rekaman sekarang, untuk sekedar melepas rindu sudah
lebih dari cukup. Tapi penggemar lagu seriosa seperti saya cuma bisa mengenang
lagu-lagu seperti Dewi Anggraini, Terima Salamku, Citra, Karam, Malam Kenangan,
Irama Desa, Lagu Biasa dan lain-lain di dalam hati saja. Sentuhan pencipta lagu
seperti Sjaiful Bahri, C. Simandjuntak, Binsar Sitompul, Iskandar, Ismail
Marzuki, RAJ Soedjasmin dan lain-lain sulit untuk direka-reka tanpa
mendengarkan lagu-lagunya secara langsung. Apakah RRI masih menyimpan rekaman
lagu-lagu seriosa tersebut? Dan apakah mungkin untuk mendapatkan duplikatnya?
Yang ideal adalah apabila RRI berkenan meng up-load lagu-lagu seriosa tersebut
di situs RRI sehingga kami, para penggemar musik seriosa Indonesia, bisa men
down-loadnya? Siapa tahu?
Musik Stambul
Sejauh saya mendapati.
Orang luar (baca :barat) banyak mendefinisikan dengan singkat apa itu keroncongdengan
“Syncretic Song Based Forms. Sebuah makna “kusut” yang sebenarnya adalah
paket dari arti panjang kata akulturasi. Malaysia, negeri di dekat kita,
menyebutkan hal yang sama. Entah dengan makna politis atau bukan, keroncong
dimaknai sebagai “Bentuk dari hasil percobaan kooperatif, baik itu seni itu
sendiri, atau bahkan budaya”. Itu makna yang bisa saya mengerti dari istilah
“SYNCRETIC”, yang sebenarnya juga bukan kata dalam bahasa Inggris asli.
Sebelumnyapun sudah saya sangka (memang manusia penuh persangkaan), dari frase
muka kata ini “SYNC” yang jelas-jelas punya makna usaha penyelarasan.
Mengenai judul diatas “STAMBUL III KEMAYORAN” ada satu hal yang menarik saya yang (walaupun) sebenarnya sudah cukup lama banyak yang sudah tahu. Selama ini (yang cuma sebentar ini). Saya mengenal lagu berjudul ‘Kemayoran” ini dengan nama (sekaligus bentuk) keroncong. Lengkapnya, judul lagu ini adalah “Kr. Kemayoran”. Tapi sebenarnya, Keroncong Kemayoran bukanlah benar-benar keroncong, tetapi Stambul III. (lihat tulisan Amir Pasaribu tentang Perkembangan Musik Indonesia, di mana beliau menyebutkan bahwa Lagu Stambul III Kemayoran).
Mengenai judul diatas “STAMBUL III KEMAYORAN” ada satu hal yang menarik saya yang (walaupun) sebenarnya sudah cukup lama banyak yang sudah tahu. Selama ini (yang cuma sebentar ini). Saya mengenal lagu berjudul ‘Kemayoran” ini dengan nama (sekaligus bentuk) keroncong. Lengkapnya, judul lagu ini adalah “Kr. Kemayoran”. Tapi sebenarnya, Keroncong Kemayoran bukanlah benar-benar keroncong, tetapi Stambul III. (lihat tulisan Amir Pasaribu tentang Perkembangan Musik Indonesia, di mana beliau menyebutkan bahwa Lagu Stambul III Kemayoran).
Umumnya, antara stambul dan keroncong,
bisa terlihat dari (salah satunya) lirik. Stambul akan lebih mendekati bentuk
pantun, sedang keroncong lebih mendekati bentuk syair. Saya bisa mencoba mulai
mengerti mengapa Amir Pasaribu ‘menganggap’ lagu ini berbentuk stambul. Lagu
keroncong (katakanlah keroncong asli) punya bentuk lagu A-B-C, dengan 8 baris
dikali 4 (birama) jadi ada 32 birama. Sedang stambul memiliki 4 baris dikali 4
(birama) jadi ada 16 birama. Jika begitu, memang lagu kemayoran ini, lebih
‘masuk’ kedalam bentuk stambul. Tapi itu hanya sekedar pandangan dangkal saya.
Toh, sampai saat ini, guru saya (baca: ewing) masih juga (sejauh saya ingat)
mengatakan “ayo sa.. KERONCONG kemayoran!”.
Berikut adalah gambaran kasar “keroncong” tapi stambul III kemayoran.
Berikut adalah gambaran kasar “keroncong” tapi stambul III kemayoran.
·
|I , , , |I , , , | (baris ini menjadi prelude)
·
|I , , , |I , , , |
·
|II# , , , |V , , , |
·
|V , , , |IV , , , | (baris ini menjadi interlude)
·
|IV , V , |I , , , |
·
|V , , , |I , , , |
·
|I , , , |I , , , |
Musik Daerah
Lagu daerah atau musik daerah atau lagu kedaerahan, adalah lagu atau
musik yang berasal dari suatu daerah tertentu dan menjadi populer dinyanyikan
baik oleh rakyat daerah tersebut maupun rakyat lainnya. Pada umumnya pencipta
lagu daerah ini tidak diketahui lagi alias noname.
Lagu kedaerahan mirip dengan lagu kebangsaan, namun statusnya hanya bersifat
kedaerahan saja. Lagu kedaerahan biasanya memiliki lirik sesuai dengan bahasa
daerahnya masing-masing. Misalkan lagu kedaerahan Bali adalah Bali Jagaddhita.
Lagu daerah atau musik daerah ini biasanya muncul dan dinyanyikan atau
dimainkan pada tradisi-tradisi tertentu pada masing-masing daerah, misal pada
saat menina-bobok-kan anak, permainan anak-anak, hiburan rakyat, pesta rakyat,
perjuangan rakyat, dan lain sebagainya.
Daftar lagu daerah Indonesia Lagu Kedaerahan merujuk kepada sebuah lagu yang
mempunyai irama khusus bagi sebuah daerah. Terdapat lagu-lagu kedaerahan yang
telah menjadi popular diseluruh negara hasil penyiaran oleh radio dan televisi.
Lagu Daerah
Lagu Daerah
Subscribe to:
Posts (Atom)