Chairil Anwar pernah berkata di dalam
salah satu syairnya yang berbunyi “sekali berarti sudah itu mati”. Tapi sejarah
keberadaan musik seriosa Indonesia adalah lebih tragis dari kata-kata Chairil
Anwar tersebut. Sejarah keberadaan peradaban manusia dapat dilihat dari
peningggalan-peninggalannya. Keberadaan binatang purba di masa lalu seperti Dinosaurus,
Mammoth dan lain-lainnya meninggalkan fosil-fosil yang masih dapat kita lihat
sampai sekarang. Tapi keberadaan musik seriosa Indonesia hampir tidak ada
bekas-bekasnya sama sekali. Sungguh menyedihkan, sebuah aset budaya bangsa
hilang begitu saja tanpa adanya peninggalan-peninggalan baik berupa rekaman,
partitur, buku maupun catatan-catatan lainnya. Di dalam “sekali berarti sudah
itu mati” mungkin yang mati masih ada kuburannya, sedangkan musik seriosa
Indonesia tidak pernah kita ketahui dimana gerangan kuburannya?
Para stake holder atau
pemangku kepentingan dari musik seriosa Indonesia sebagai cabang dari seni
musik adalah pencipta musik, pelaku seni musik (pemain dan penyanyi), dan
masarakat penikmat musik. Disamping itu, tentunya bangsa, negara dan pemerintah
Indonesia karena musik adalah aset budaya bangsa. “Kepunahan” seni musik
seriosa ini adalah tanggung jawab mereka. Pencipta musik tidak lagi mencipta,
pelaku musik tidak lagi manggung, penikmat musiknya makin lama makin sedikit.
Sementara bangsa, negara dan pemerintah tidak berbuat apa-apa dalam hal ini.
Nasib musik keroncong masih jauh lebih baik, karena pelaku musiknya masih aktif
dan dokumentasi tentang keberadaan musik jenis keroncong ini masih banyak dan
mudah didapat. Begitu juga halnya dengan musik Melayu. Walaupun tergilas oleh
keberadaan musik dangdut, para pencipta, pelaku dan peminat musik Melayu
relatif masih banyak. Bedanya, kalau musik keroncong sudah bisa dikatakan
menjadi legenda karena langkanya kreasi-kreasi baru, musik Melayu masih
menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang lebih dinamis.
Salah satu kesalahan yang sangat saya
sesalkan dari para pecinta musik seriosa Indonesia ini adalah tidak adanya
rekaman atau buku-buku atau bentuk dokumentasi lainnya. Saya adalah salah satu
dari pecinta musik ini yang harus ikut bertanggung jawab dalam hal ini. Bila
kita melakukan pencarian di internet, jangan harap kita bisa melakukan down-load terhadap
lagu-lagu seriosa yang pernah ngetop pada jamannya, karena
memang tidak ada yang pernah melakukan up-load. Baik google,
yahoo ataupun situs yang lain tidak ada yang menyimpan lagu-lagu
seriosa yang dulu pernah tenar. Yang cukup mengagetkan adalah ditemukannya nama
Pranajaya dan Pranawengrum Katamsi, yang disebut sebagai Bapak Musik Seriosa
Indonesia dan Perintis Musik Seriosa Indonesia. Saya tidak menafikkan nama
besar ke dua penyanyi ini. Tapi saya kaget dengan sebutan tersebut yang
berkonotasi seolah-oleh mereka adalah perintis dan pelopor dari musik seriosa
Indonesia. Padahal masa kejayaan ke dua penyanyi ini adalah justru pada masa
“sandyakala” nya musik seriosa.
Pranajaya dan Pranawengrum memang pernah
menjadi maestro dan diva musik seriosa
Indonesia. Walaupun sama-sama mempunyai nama yang berawalan Prana, mereka tidak
ada hubungan keluarga. Pranajaya bernama asli Pranowo, sedangkan Pranajaya
adalah nama artisnya. Setelah Pranajaya memenangkan sayembara Bintang Radio,
Bung Karno, Presiden RI pada masa itu menghadiahkan bea siswa untuk memperdalam
seni musik di luar negeri. Kalau para Bintang-Bintang Radio sebelumnya memilih
untuk memperdalam ilmunya di Konservatorium Musik di Viena atau Roma, Pranajaya
memilih untuk belajar ke Jepang pada tahun 1963. Dia adalah salah satu dari
penyanyi bersuara tenor pujaan saya. Saya masih ingat bila ia menyanyikan lagu
Indonesia Pusaka di siaran TVRI, yang pada waktu itu adalah satu-satunya
stasion televisi yang ada, maka bulu kuduk saya jadi merinding karena terharu.
Sepulangnya dari Jepang, apresiasi terhadap musik seriosa di Indonesia justru
semakin surut. Akhirnya Pranajaya mendirikan Bina Vokalia yang terkenal itu,
dimana ia mengajarkan kepada anak-anak teknik vokal yang baik dan benar, tapi
bukan lagi musik seriosa yang ia geluti sebelumnya. Alasan ekonomi adalah dasar
pertimbangan utamanya. Sementara Pranawengrum adalah penyanyi seriosa satu
generasi sesudah Pranajaya. Berasal dari kota Yogya, Pranawengrum yang bersuara
sopran ini merajai kejuaraan Bintang Radio berturut-turut sampai kejuaraan
Bintang Radio ini dihentikan oleh RRI karena keterbatasan anggaran. Itu
sebabnya Pranawengrum disebut Bintang Radio abadi, karena tidak pernah
terkalahkan oleh siapapun. Jadi saya keberatan bila ke dua penyanyi besar ini
disebut sebagai perintis. Penyanyi-penyanyi besar dan legendaris dari jenis
seriosa ini cukup banyak. Ada nama-nama seperti Ade Ticoalu, Surti Suwandi,
Evelyne Tjiauw yang bersuara sopran. Ada Norma Sanger, Rose
Pandanwangi dan Sri Rahayu Susito yang bersuara mezzo-sopran. Di
jajaran penyanyi pria ada Andi Mulja, AR Empie yang juga berprofesi sebagai jaksa
dan Pranajaya yang bersuara tenor. Penyanyi bersuara bariton memang
jarang, tapi kita pernah punya seorang baritono legendaris
yaitu FX Rusmin. Saya sangat merindukan suara FX Rusmin menyanyikan lagu Kepada
Kawan ciptaan Alhabsyi. Pada waktu sebuah misi kebudayaan Indonesia
berkunjung ke RRC pada awal tahun 1960-an, duo Andi Mulja dan
Evelyne Tjiauw mendapat sambutan luar biasa saat membawakan lagu Ati
Raja secara duet. Saya iri sekali dengan penggemar musik Melayu. Pada
tahun 1950-an ada Orkes Melayu Sinar Medan, ada Orkes Melayu Bukit Siguntang
pimpinan A Chalik. Penyanyi besar masa itu adalah biduan Suhaimi dengan hit-nya
berjudul Dunia. Begitu juga biduanita Hasnah Tahar, penyanyi pujaan ibu saya
almarhumah. Lagunya yang terkenal antara lain Aiga, Rindu dan Bunga Seroja.
Untuk mendengar kembali lagu-lagu ini kita bisa mengakses beberapa situs
internet dan men-down load lagu-lagu tersebut dengan mudah. Walaupun mutu
rekamannya tidak sebagus rekaman sekarang, untuk sekedar melepas rindu sudah
lebih dari cukup. Tapi penggemar lagu seriosa seperti saya cuma bisa mengenang
lagu-lagu seperti Dewi Anggraini, Terima Salamku, Citra, Karam, Malam Kenangan,
Irama Desa, Lagu Biasa dan lain-lain di dalam hati saja. Sentuhan pencipta lagu
seperti Sjaiful Bahri, C. Simandjuntak, Binsar Sitompul, Iskandar, Ismail
Marzuki, RAJ Soedjasmin dan lain-lain sulit untuk direka-reka tanpa
mendengarkan lagu-lagunya secara langsung. Apakah RRI masih menyimpan rekaman
lagu-lagu seriosa tersebut? Dan apakah mungkin untuk mendapatkan duplikatnya?
Yang ideal adalah apabila RRI berkenan meng up-load lagu-lagu seriosa tersebut
di situs RRI sehingga kami, para penggemar musik seriosa Indonesia, bisa men
down-loadnya? Siapa tahu?
No comments:
Post a Comment